Apa yang Perlu Dilakukan untuk Meningkatkan Manajemen Aset dan Keuangan Syariah

Kita semua menyadari bahwa perbankan dan keuangan syariah semakin populer di Indonesia. Sejumlah besar individu terus mengikuti mode meskipun kurang memahami keuangan Islam.

Masih banyak kesalahpahaman tentang apa itu manajemen keuangan syariah, terutama di kalangan banyak orang, terutama dalam hal manajemen keuangan. Istilah “pengelolaan keuangan Islam” dapat diucapkan dengan tiga suku kata yang berbeda.

Proses perencanaan, koordinasi, dan pengendalian sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien disebut sebagai manajemen.

Salah satu subbidang yang berada di bawah payung “manajemen” adalah bidang “manajemen keuangan”.

Manajemen keuangan berkaitan dengan bagaimana nilai ekonomi atau kesejahteraan dapat diciptakan dan dipertahankan dari waktu ke waktu, konsekuensinya, dan semua keputusan yang perlu dibuat untuk menciptakan kekayaan sambil tetap mengingat tujuan itu.

Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen keuangan Islam terkait dengan produksi dan pemeliharaan nilai ekonomi atau kesejahteraan, serta konsekuensi dari hubungan tersebut. Selanjutnya, semua pengambilan keputusan harus berpusat pada produksi kesejahteraan sesuai dengan prinsip syariah.

Dengan kata lain, pengelolaan keuangan Islam hanyalah pengelolaan keuangan seseorang yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, baik dari segi cara memperoleh uang maupun membelanjakannya.

 

Prinsip Manajemen Keuangan Islam

Seperi yang telah disebutkan sebelumnya, dasar-dasar keuangan Islam harus menghindari transaksi yang dilarang oleh Syariah Islam, yang merupakan topik yang telah dibahas secara mendalam dalam mata pelajaran Keuangan Syariah.

Apa jenis transaksi bisnis yang dilarang menurut hukum Islam?

Transaksi dengan materi haram, transaksi riba (mewajibkan pengembalian kelebihan utang), transaksi ghara (ketidakpastian tentang hal yang harus dipastikan), transaksi maisir (spekulasi), transaksi risywah (suap), transaksi tadlis (penipuan), transaksi maksiat, transaksi zalim , dan transaksi lainnya yang tidak memenuhi rukun dan syarat kontrak semuanya dilarang.

Menurut penuturan Rifa’ah Ibu Rafi, Rasulullah SAW telah memberikan rumusan sumber penghasilan dari segi profesi yang diajarkan dalam syariat Islam. Rumus ini dapat ditemukan dalam bagian berikut:

Objek yang dapat diperjualbelikan meliputi barang dan manfaat. Keuntungan tersebut tidak hanya meliputi keuntungan yang ditimbulkan oleh benda, tetapi juga keuntungan yang ditimbulkan oleh perbuatan (jasa).

Oleh karena itu, karir yang paling penting adalah perdagangan, dalam hal ini pedagang hampir pasti terlibat dalam jual beli, atau usaha patungan, dalam hal ini usaha patungan hampir pasti terlibat dalam jual beli.

Beberapa contoh pedagang barang adalah mereka yang berdagang sayuran dan makanan serta mereka yang berdagang produk halal.

Pemilik properti persewaan, seperti rumah dan kendaraan, serta pemilik gudang dan tempat penyimpanan, adalah contoh pedagang keuntungan barang.

Pedagang yang mendapat untung dari aksi antara lain, namun tidak terbatas pada, konsultan, guru, pegawai swasta, PNS, calo, dan pengemudi.

Menurut syariah, profesi utama untuk mengumpulkan aset adalah mereka yang melibatkan jual beli dan/atau skema kemitraan, yang keduanya akan melibatkan jual beli jika keuntungan yang wajar diinginkan. Secara khusus, setiap profesi yang melibatkan skema jual beli dan/atau kemitraan.

Baca juga kelas keuangan syariah.